Meskipun baru saja mengalami koreksi harga hingga mencapai 4 persen, daya tarik emas sebagai instrumen investasi diprediksi akan tetap kuat di mata para investor. Penurunan harga jangka pendek dinilai tidak mengurangi nilai fundamental emas sebagai aset yang tangguh dalam berbagai kondisi ekonomi.
Boy Suhendry, pakar dari DBS, memberikan analisis mengenai fenomena ini. Menurutnya, emas memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas nilai kekayaan seseorang. Kunci utama dalam menghadapi fluktuasi pasar bukanlah dengan menghindari aset tertentu, melainkan dengan menerapkan strategi diversifikasi portofolio yang tepat.
Diversifikasi berarti menyebarkan aset investasi ke berbagai instrumen yang berbeda. Dengan menyertakan emas dalam portofolio, investor dapat memitigasi risiko ketika aset investasi lainnya, seperti saham atau obligasi, mengalami penurunan nilai. Emas sering kali bergerak berlawanan arah dengan aset berisiko, sehingga mampu menjadi penyeimbang yang efektif.
Lebih lanjut, emas dipandang sebagai aset aman (safe haven) yang mampu mempertahankan daya belinya dalam jangka panjang. Meskipun terjadi fluktuasi harga harian, tren jangka panjang emas cenderung stabil dan cenderung meningkat, terutama saat terjadi ketidakpastian ekonomi global atau inflasi yang tinggi.
Oleh karena itu, penurunan harga yang terjadi saat ini justru dapat dipandang sebagai peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi aset emas pada harga yang lebih rendah, guna memperkuat ketahanan finansial mereka di masa depan.






