Rahayu Saraswati Djojohadikusumo memilih jalur seni pertunjukan untuk menyuarakan isu kemanusiaan yang mendalam. Melalui sebuah pementasan monolog bertajuk 'Kalau Bukan Aku', ia mencoba membedah kompleksitas permasalahan perdagangan orang yang masih menjadi ancaman serius hingga saat ini.
Karya seni ini dijadwalkan tampil dalam ajang MonoPlay Festival 2026. Dalam pertunjukan tersebut, Rahayu tidak hanya sekadar bercerita, namun membawa penonton menyelami sisi psikologis korban. Fokus utama dari naskah monolog ini adalah penggambaran luka batin, trauma mendalam, hingga perasaan dendam yang kerap menghantui para penyintas perdagangan manusia.
Melalui pendekatan teatrikal, 'Kalau Bukan Aku' diharapkan mampu menjadi medium refleksi bagi masyarakat luas mengenai dampak destruktif dari tindak pidana perdagangan orang. Rahayu ingin menekankan bahwa luka yang dialami korban tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berupa trauma psikis jangka panjang yang sulit untuk disembuhkan.
Kehadiran karya ini di MonoPlay Festival 2026 menjadi bukti bahwa seni dapat digunakan sebagai alat advokasi untuk mengangkat isu-isu sosial yang krusial. Dengan mengemas fakta pahit menjadi sebuah narasi panggung, pesan mengenai perlindungan hak asasi manusia dan pencegahan perdagangan orang dapat tersampaikan dengan lebih emosional dan menyentuh hati penonton.






