Pemerintah Amerika Serikat memberikan sinyal positif terkait kemungkinan adanya keringanan sanksi ekonomi terhadap Iran. Langkah ini direncanakan sebagai bagian dari strategi diplomasi untuk mendorong kemajuan nyata dalam pembatasan program nuklir negara tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pejabat Amerika Serikat, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump bersedia untuk mengkaji ulang kebijakan sanksi yang selama ini mencekik ekonomi Iran. Selain pengurangan sanksi, AS juga mempertimbangkan untuk mencairkan kembali aset-aset dana Iran yang saat ini masih dibekukan di berbagai lembaga keuangan internasional.
Namun, penawaran ini tidak diberikan secara cuma-cuma. Pihak Amerika Serikat menegaskan bahwa segala bentuk keringanan ekonomi hanya akan diberikan apabila Iran mampu menunjukkan bukti konkret dan kemajuan signifikan dalam mengendalikan program nuklirnya. Hal ini menjadi syarat utama agar ketegangan diplomatik antara kedua negara dapat mereda.
Kabar mengenai potensi negosiasi ini pertama kali terungkap melalui laporan media Amerika, Axios dan CNN, pada Senin (28/9/2026). Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk membuka kembali jalur komunikasi yang sempat terputus guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah lama diwarnai ketegangan diplomatik, terutama sejak penarikan diri AS dari perjanjian nuklir tahun 2015 (JCPOA). Sanksi ekonomi berat yang diterapkan AS bertujuan untuk menekan Teheran agar menghentikan pengembangan senjata nuklir, yang pada gilirannya berdampak besar pada stabilitas ekonomi kawasan dan harga energi global.






