Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan kesiapannya untuk mengemban tanggung jawab baru sebagai Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Energi. Pernyataan ini disampaikan Bahlil saat kehadirannya di Istana Kepresidenan pada Kamis (1/10).
Langkah penunjukan ini mengindikasikan adanya penguatan struktur kabinet, khususnya dalam mengawal program strategis pemerintah terkait hilirisasi industri. Sebagai Menko, Bahlil nantinya akan memiliki peran koordinasi yang lebih luas dalam memastikan integrasi kebijakan antara sektor energi dan upaya peningkatan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Fokus utama dari posisi koordinasi ini adalah untuk memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diproses terlebih dahulu melalui industri pengolahan. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.
Kesiapan Bahlil dalam mengemban posisi baru ini dipandang sebagai kelanjutan dari visi pemerintah untuk mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi. Dengan rekam jejaknya di Kementerian ESDM, Bahlil diharapkan mampu menyelaraskan berbagai kebijakan lintas kementerian agar target hilirisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Hilirisasi merupakan salah satu pilar utama dalam strategi pembangunan ekonomi Indonesia saat ini. Kebijakan ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi dari yang sebelumnya berbasis pada ekspor bahan mentah menjadi ekonomi berbasis nilai tambah. Implementasi hilirisasi telah diterapkan pada berbagai komoditas unggulan, seperti nikel dan tembaga, guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan.




