Pemerintah Kota Palangka Raya mengambil langkah konkret untuk meringankan beban ekonomi masyarakat yang terdampak oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagai bentuk kepedulian, pemerintah setempat menyelenggarakan program Gerakan Pangan Murah (GPM) serta pasar murah yang ditujukan bagi warga yang mengalami kesulitan akses pangan akibat bencana tersebut.
Inisiatif ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga yang terjangkau di tengah situasi darurat lingkungan yang melanda wilayah Palangka Raya. Melalui program ini, masyarakat dapat memperoleh berbagai komoditas pangan esensial tanpa harus terbebani oleh lonjakan harga yang kerap terjadi saat situasi krisis atau bencana alam.
Pelaksanaan GPM dan pasar murah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen sekaligus menekan angka inflasi daerah. Selain itu, langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi dampak sosial ekonomi yang timbul akibat kabut asap dan kerusakan lahan yang melanda kawasan tersebut.
Pemerintah Kota Palangka Raya menegaskan bahwa penyaluran pangan murah ini menyasar kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak oleh karhutla. Dengan adanya intervensi harga melalui pasar murah, diharapkan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi meskipun aktivitas ekonomi terganggu oleh kondisi cuaca dan lingkungan yang ekstrem.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan permasalahan tahunan yang kerap melanda wilayah Kalimantan, termasuk Palangka Raya. Fenomena ini biasanya dipicu oleh musim kemarau panjang yang ekstrem serta praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga menyebabkan polusi asap hebat yang mengganggu kesehatan masyarakat, melumpuhkan transportasi udara, hingga menghambat aktivitas ekonomi lokal di seluruh wilayah terdampak.






