Sektor budi daya udang di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius terkait efisiensi biaya produksi. Harga Pokok Produksi (HPP) udang dalam negeri tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan negara kompetitor utama, yakni Ekuador. Kondisi ini membuat daya saing produk udang Indonesia di pasar global menjadi terhambat.
Salah satu faktor utama yang memicu lonjakan biaya tersebut adalah tingginya pengeluaran untuk pakan. Anggota Dewan Pakar Kelompok Kerja Pengembangan Budi Daya Udang Berkelanjutan, Hasanuddin Atjo, mengungkapkan bahwa biaya pakan mampu menyerap hingga 62 persen dari total biaya produksi. Ketergantungan yang tinggi terhadap pakan dengan harga mahal menjadi beban berat bagi para petambak udang.
Kesenjangan biaya produksi antara Indonesia dan Ekuador ini menjadi perhatian serius bagi para pemangku kepentingan di industri akuakultur. Tingginya HPP tidak hanya mengurangi margin keuntungan petambak, tetapi juga memaksa harga jual produk meningkat, sehingga sulit bersaing dengan produk udang dari Ekuador yang mampu dipasarkan dengan harga lebih kompetitif di pasar internasional.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah strategis dalam menekan biaya produksi, terutama melalui inovasi pakan yang lebih efisien namun tetap berkualitas. Optimalisasi manajemen budi daya dan peningkatan produktivitas per hektare juga menjadi kunci agar biaya operasional dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas hasil panen.
Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu produsen udang terbesar di dunia, terutama untuk jenis udang Vaname. Namun, industri ini sering kali berhadapan dengan fluktuasi harga bahan baku pakan impor dan tantangan penyakit yang dapat menurunkan hasil panen secara drastis, sehingga efisiensi biaya produksi menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan ekonomi para petambak lokal.






