Tiongkok diprediksi akan kembali memperkuat agenda dedolarisasi dalam lingkup kerja sama BRICS. Langkah strategis ini diperkirakan akan muncul ke permukaan setelah Tiongkok resmi mengambil alih kepemimpinan dan dijadwalkan menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT BRICS pada tahun 2027 mendatang.
Upaya dedolarisasi sendiri merupakan langkah untuk mengurangi ketergantungan negara-negara anggota terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan internasional. Dengan posisi sebagai pemimpin BRICS di periode tersebut, China memiliki peluang besar untuk mendorong penggunaan mata uang lokal atau pengembangan sistem pembayaran alternatif guna meminimalkan risiko ekonomi yang berkaitan dengan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Langkah ini dipandang sebagai tantangan serius bagi dominasi Dolar AS yang selama ini menjadi mata uang utama dalam sistem keuangan global. Fokus China dalam KTT 2027 nantinya kemungkinan besar akan tertuju pada penguatan integrasi ekonomi antarnegara anggota BRICS, yang mencakup Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta negara-negara mitra baru yang bergabung dalam blok tersebut.
Kecenderungan untuk beralih dari Dolar AS ini bukan sekadar langkah ekonomi, melainkan juga mencerminkan pergeseran geopolitik global. Dengan memperkuat kemandirian finansial di internal BRICS, negara-negara anggota berharap dapat lebih terlindungi dari dampak sanksi ekonomi sepihak serta fluktuasi nilai tukar yang sering kali dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.






