Kondisi cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Nino mulai memberikan dampak nyata bagi lingkungan hijau di wilayah DKI Jakarta. Sejumlah taman kota yang biasanya menjadi oase bagi warga ibu kota kini terlihat meranggas dan mengalami kekeringan yang cukup signifikan.
Kekeringan ini terlihat jelas dari kondisi vegetasi di area taman yang mulai menguning dan mengering akibat kurangnya curah hujan dalam periode yang lama. Suhu udara yang meningkat tajam serta minimnya pasokan air alami membuat tanaman di ruang terbuka hijau tersebut kehilangan kesegarannya, sehingga mengubah pemandangan asri menjadi gersang.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola taman kota dalam menjaga kelestarian ekosistem perkotaan. Upaya penyiraman rutin mungkin tetap dilakukan, namun intensitas panas yang ekstrem akibat El Nino membuat penguapan terjadi lebih cepat, sehingga tanaman tetap rentan mengalami stres kekeringan.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada estetika kota, tetapi juga pada fungsi taman sebagai paru-paru kota yang berperan dalam menurunkan suhu lingkungan dan menyerap polusi udara. Jika kondisi gersang ini terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat, dikhawatirkan banyak tanaman hias maupun pohon peneduh akan mati secara massal.
Secara umum, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak global. Di Indonesia, fenomena ini biasanya memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari biasanya, yang sering kali berujung pada krisis air bersih, kegagalan panen di sektor pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.






