Kekhawatiran mengenai pengaruh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap lingkungan diprediksi akan menjadi salah satu topik sentral dalam konferensi perubahan iklim mendatang, COP31. Hal ini mengacu pada lonjakan konsumsi energi yang sangat signifikan seiring dengan masifnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor global.
Keterkaitan antara AI dan krisis iklim ini mencuat dalam forum Climate Week yang berlangsung di New York pada Senin (28/9). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Iklim Turki, Murat Kurum, menegaskan bahwa agenda COP31 nantinya akan memberikan perhatian khusus pada risiko-risiko lingkungan yang muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan adalah kebutuhan energi yang sangat besar untuk mengoperasikan pusat data (data center) berskala besar. Infrastruktur yang mendukung sistem AI memerlukan daya listrik dalam jumlah masif untuk proses komputasi serta sistem pendinginan mesin, yang jika tidak dikelola dengan sumber energi terbarukan, justru akan meningkatkan emisi karbon global.
Oleh karena itu, pembahasan di COP31 diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah mitigasi agar kemajuan teknologi digital tidak justru memperburuk kondisi pemanasan global. Fokus utama terletak pada bagaimana menyeimbangkan antara inovasi teknologi dengan komitmen menjaga kelestarian lingkungan hidup melalui efisiensi energi.
Sebagai informasi, COP (Conference of the Parties) merupakan pertemuan tahunan terbesar di dunia yang mempertemukan para pemimpin negara anggota Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Pertemuan ini bertujuan untuk meninjau implementasi perjanjian iklim global, seperti Perjanjian Paris, guna membatasi kenaikan suhu bumi dan mempercepat transisi menuju energi bersih demi keberlangsungan ekosistem planet ini.






