Dedi Mulyadi memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan sumber daya air di kawasan Waduk Jatiluhur. Ia secara tegas meminta agar para pengusaha atau pengelola pusat data (data center) tidak melakukan pengambilan air secara langsung dari waduk tersebut untuk memenuhi kebutuhan operasional mereka.
Menurut Dedi, ketergantungan industri terhadap penyedotan air langsung dari Waduk Jatiluhur perlu dikurangi. Sebagai solusinya, ia mendorong para pelaku usaha untuk mengalihkan pemenuhan kebutuhan air mereka melalui layanan resmi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Langkah ini dinilai lebih tepat guna menjaga keseimbangan ekosistem air di wilayah tersebut.
Permintaan ini muncul di tengah meningkatnya pembangunan infrastruktur teknologi, termasuk data center, yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan server. Dedi menekankan bahwa pemanfaatan jalur distribusi air yang dikelola oleh pemerintah daerah melalui PDAM akan lebih teratur dan dapat dipantau distribusinya, sehingga tidak mengganggu ketersediaan air bagi kepentingan publik lainnya.
Dengan mengalihkan konsumsi air ke PDAM, diharapkan terdapat mekanisme pengelolaan yang lebih transparan dan terintegrasi. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air di kawasan Jatiluhur agar tetap terjaga keberlanjutannya bagi masyarakat luas dan sektor pertanian di sekitarnya.
Waduk Jatiluhur merupakan salah satu bendungan terbesar di Indonesia yang memiliki peran krusial dalam sistem irigasi pertanian, pengendalian banjir, serta penyediaan air baku untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebagai infrastruktur vital, pengelolaan air di kawasan ini selalu menjadi perhatian utama guna memastikan distribusi air tetap adil dan berkelanjutan di tengah meningkatnya kebutuhan industri dan populasi penduduk.






