Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan bahwa tingkat ketahanan energi nasional saat ini berada dalam kategori yang tahan. Hal ini disampaikan oleh Anggota Pemangku Kepentingan DEN, Muhammad Kholid Syeirazi, yang menilai bahwa kondisi ketersediaan dan akses energi di Indonesia masih terjaga dengan baik.
Menurut Syeirazi, indeks ketahanan energi menjadi parameter krusial untuk mengukur sejauh mana kemampuan negara dalam menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat dan industri. Kategori 'tahan' menunjukkan bahwa sistem manajemen energi nasional mampu menghadapi berbagai tantangan distribusi maupun pasokan, meskipun dinamika global terus memberikan tekanan terhadap stabilitas energi.
DEN menekankan pentingnya konsistensi dalam pengelolaan sumber daya energi agar stabilitas ini dapat terus dipertahankan. Penguatan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada efisiensi penggunaan energi serta diversifikasi sumber energi yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Upaya menjaga indeks ketahanan energi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terhambat oleh krisis energi. Dengan berada pada kategori tahan, Indonesia diharapkan memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam melakukan transisi energi tanpa mengorbankan stabilitas pasokan domestik.
Ketahanan energi merupakan pilar penting bagi kedaulatan sebuah negara. Secara umum, indeks ketahanan energi diukur berdasarkan beberapa dimensi utama, yaitu ketersediaan (availability), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (acceptability). Penguatan sektor ini sangat krusial bagi Indonesia sebagai negara dengan populasi besar dan wilayah geografis yang luas, guna memastikan pemerataan akses energi dari pusat kota hingga ke pelosok daerah.






