Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah pemimpin perusahaan teknologi terkemuka di Gedung Putih pada Selasa (29/9/2026). Pertemuan strategis ini bertujuan untuk membahas arah pengembangan teknologi masa depan dan infrastruktur digital di Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, tercapai tiga poin keputusan utama. Pertama, para pemimpin teknologi sepakat untuk menerapkan sistem pengawasan mandiri terhadap pengembangan kecerdasan buatan (AI). Kedua, pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap percepatan pembangunan pusat data (data center) di berbagai wilayah.
Keputusan ketiga yang cukup mencolok adalah instruksi untuk mengubah terminologi 'artificial intelligence' atau kecerdasan buatan menjadi 'Super Intelligence'. Langkah ini menandai pergeseran paradigma dalam cara pemerintah dan industri memandang evolusi teknologi kecerdasan buatan.
Namun, ambisi pembangunan pusat data ini menghadapi tantangan besar dari masyarakat. Berdasarkan data yang tersedia, sekitar 65 persen warga Amerika Serikat menyatakan penolakan terhadap pembangunan fasilitas data center di lingkungan mereka. Menanggapi resistensi tersebut, Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa penolakan terhadap kemajuan infrastruktur teknologi ini dapat berdampak buruk pada kondisi ekonomi masyarakat, bahkan menyebutkan risiko kemiskinan bagi mereka yang menghambat perkembangan industri tersebut.






