Keresahan melanda ratusan wali santri di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyusul munculnya dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan lembaga pendidikan tersebut. Situasi ini memicu gelombang penjemputan massal oleh para orang tua yang merasa khawatir akan keselamatan anak-anak mereka.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, puluhan hingga ratusan santri kini telah meninggalkan pesantren setelah dijemput oleh keluarga masing-masing. Meskipun status kepulangan para santri ini disebut sebagai libur sementara, namun banyak orang tua yang secara terbuka menyatakan keraguan mereka untuk mengirimkan kembali anak-anak mereka ke pondok pesantren tersebut.
Kekhawatiran utama muncul dari para orang tua yang memiliki anak perempuan. Mereka merasa terancam dengan situasi keamanan di lingkungan pesantren setelah mencuatnya dugaan tindakan asusila oleh oknum pimpinan. Rasa trauma dan ketakutan akan terulangnya kejadian serupa menjadi alasan utama mengapa banyak wali santri memilih untuk menarik anak-anak mereka secara permanen.
Kondisi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang mendalam terhadap manajemen pengawasan di lingkungan pondok pesantren tersebut. Para orang tua berharap adanya pengusutan tuntas dan penegakan hukum yang adil agar kejadian serupa tidak terulang kembali, serta memastikan bahwa lembaga pendidikan agama seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi perkembangan moral dan fisik anak.
Kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan menjadi isu serius yang kerap menjadi perhatian publik di Indonesia. Sebagai lembaga yang mengedepankan nilai-nilai moral dan akhlak, pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan perlindungan maksimal kepada santri. Maraknya kasus serupa di berbagai wilayah menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan internal serta edukasi mengenai hak-hak anak dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan institusi pendidikan.






