Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, memberikan penjelasan mendalam terkait strategi manajemen bencana yang saat ini diterapkan pemerintah. Salah satu poin krusial yang disoroti adalah efektivitas penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya yang terjadi di area gambut.
Menurut Suharyanto, metode water bombing dinilai kurang efektif jika diterapkan pada kebakaran lahan gambut. Hal ini dikarenakan karakteristik lahan gambut yang menyimpan api di lapisan bawah permukaan tanah, sehingga penyiraman air dari udara sering kali hanya memadamkan api di permukaan saja tanpa mampu menjangkau titik bara yang berada jauh di dalam tanah.
Selain membahas mengenai karhutla, Suharyanto juga memaparkan koordinasi penanggulangan berbagai bencana alam lainnya yang kerap melanda wilayah Indonesia, mulai dari risiko gempa bumi hingga potensi tanah longsor. Ia menekankan pentingnya manajemen risiko yang terintegrasi dan mitigasi dini guna meminimalisir dampak kerusakan serta jumlah korban jiwa dalam setiap peristiwa bencana.
Upaya penanganan kebakaran lahan gambut ke depannya diharapkan lebih menitikberatkan pada metode pemadaman darat melalui pembuatan sekat kanal dan pembasahan lahan (rewetting) untuk menjaga kelembapan gambut, sehingga api tidak mudah menyebar meski musim kemarau melanda.






