Kondisi ekonomi makro Indonesia diprediksi akan menghadapi tantangan pada tahun 2026, terutama terkait dengan posisi transaksi berjalan. Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman, memberikan proyeksi bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia berpotensi mengalami pelebaran hingga mencapai angka 2,49 persen.
Kenaikan angka defisit ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara arus uang yang masuk ke dalam negeri dengan arus uang yang keluar. Secara sederhana, hal ini terjadi ketika nilai pembayaran untuk barang dan jasa yang diimpor lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor yang dihasilkan oleh negara.
Menurut analisis Faisal, pelebaran defisit ini dipengaruhi oleh berbagai dinamika ekonomi global maupun domestik yang saling berkaitan. Meskipun angka tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola, namun tren peningkatan defisit tetap menjadi perhatian serius bagi stabilitas moneter dan nilai tukar rupiah di masa depan.
Ketergantungan pada impor bahan baku industri serta fluktuasi harga komoditas unggulan di pasar internasional seringkali menjadi pemicu utama perubahan angka transaksi berjalan. Oleh karena itu, penguatan sektor manufaktur dalam negeri dan peningkatan daya saing ekspor menjadi kunci penting untuk menekan angka defisit tersebut agar tidak terus membengkak di tahun-tahun mendatang.
Transaksi berjalan atau current account merupakan salah satu indikator utama dalam neraca pembayaran sebuah negara. Komponen utamanya meliputi neraca perdagangan barang dan jasa, pendapatan primer seperti dividen dan bunga, serta transfer sekunder. Jika defisit ini terus melebar secara signifikan tanpa dukungan investasi asing yang kuat, maka tekanan terhadap stabilitas nilai tukar mata uang nasional akan semakin meningkat.






