Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif membawa tantangan baru bagi sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Menanggapi fenomena ini, Komisaris Independen PT KAI, Endang Tirtana, memberikan sorotan mengenai kompetensi apa saja yang harus dimiliki agar manusia tetap relevan di tengah otomatisasi teknologi.
Menurut Endang, kemajuan AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai pendorong bagi individu untuk meningkatkan kualitas diri. Ia menekankan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama. Generasi muda dituntut untuk tidak hanya menguasai alat-alat teknologi terbaru, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan pola kerja yang terjadi akibat integrasi AI di berbagai sektor industri.
Selain aspek teknis, Endang menggarisbawahi bahwa ada sisi kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Kompetensi yang berpadu dengan empati menjadi nilai tambah yang sangat krusial. Kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, membangun koneksi emosional, serta menunjukkan kepedulian antarsesama adalah hal-hal yang tetap menjadi domain eksklusif manusia.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa meskipun AI mampu mengolah data dengan kecepatan tinggi dan akurasi yang luar biasa, AI tidak memiliki nurani dan rasa kemanusiaan. Oleh karena itu, penguatan karakter dan integritas moral menjadi benteng utama bagi generasi muda agar tetap mampu memimpin dan mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan bersama, bukan sekadar menjadi operator mesin.
Sebagai penutup, Endang mendorong agar pengembangan kompetensi dilakukan secara seimbang antara hard skill dan soft skill. Dengan mengombinasikan kecerdasan intelektual, kemampuan adaptasi, serta empati yang tinggi, generasi muda akan mampu bersaing dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa di era digital.






