Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, menekankan pentingnya momentum Hari Batik Nasional (HBN) sebagai titik balik untuk memacu regenerasi di sektor industri batik. Menurutnya, langkah ini sangat krusial guna memastikan keberlanjutan warisan budaya sekaligus menjaga stabilitas ekonomi kreatif di Indonesia.
Faisol mengungkapkan bahwa regenerasi pengrajin batik menjadi kunci utama agar seni tradisional ini tidak tergerus zaman. Ia mendorong adanya upaya terstruktur untuk menarik minat generasi muda agar mau terjun dan menekuni dunia pembatikan, baik dari sisi produksi maupun pengembangan desain yang lebih modern namun tetap menjaga pakem tradisional.
Lebih lanjut, Wamenperin menilai bahwa batik bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga kualitas dan autentisitasnya. Dengan adanya regenerasi yang berjalan baik, diharapkan inovasi dalam industri batik dapat terus berkembang, sehingga produk batik Indonesia tetap kompetitif di pasar domestik maupun internasional.
Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus mendukung ekosistem industri batik melalui berbagai kebijakan yang berpihak pada pengrajin lokal. Dukungan tersebut diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi kaum muda di daerah-daerah sentra batik, sehingga roda ekonomi rakyat dapat terus berputar secara mandiri dan berkelanjutan.
Batik sendiri telah diakui secara global sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi oleh UNESCO sejak tahun 2009. Pengakuan internasional ini menjadikan batik sebagai salah satu simbol diplomasi budaya Indonesia yang paling kuat. Selain memiliki nilai seni yang tinggi, industri batik juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di sektor UMKM, terutama di wilayah Jawa, yang memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.






