Penggunaan jenis bahan bakar yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin pada kendaraan hybrid dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi performa kendaraan. Salah satu risiko utama yang muncul adalah terjadinya fenomena 'knocking' atau knocking engine, yang dalam bahasa awam sering disebut sebagai gejala mesin menggelitik.
Kondisi knocking terjadi ketika campuran bahan bakar dan udara di dalam ruang bakar meledak secara tidak teratur atau prematur, bukan terbakar secara bertahap sesuai siklus kerja mesin. Hal ini dipicu oleh penggunaan BBM dengan nilai oktan yang terlalu rendah dibandingkan rekomendasi pabrikan, sehingga bahan bakar terbakar terlalu cepat akibat tekanan tinggi di dalam silinder.
Jika dibiarkan dalam jangka panjang, gejala knocking tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara karena munculnya suara kasar dari mesin, tetapi juga berisiko merusak komponen internal. Kerusakan yang paling fatal dapat terjadi pada piston, stang piston, hingga katup mesin akibat tekanan ledakan yang tidak terkendali.
Pemilik kendaraan hybrid sangat disarankan untuk selalu merujuk pada buku manual kendaraan terkait pemilihan bahan bakar. Meskipun sistem hybrid dirancang untuk efisiensi tinggi, mesin pembakaran internalnya tetap memerlukan kualitas bahan bakar yang tepat agar sinkronisasi antara motor listrik dan mesin bensin dapat berjalan optimal tanpa mengorbankan ketahanan mesin.
Secara umum, kendaraan hybrid merupakan teknologi transisi yang menggabungkan mesin pembakaran internal dengan motor listrik untuk menekan emisi karbon dan menghemat konsumsi bahan bakar. Popularitas mobil hybrid terus meningkat secara global seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan isu lingkungan serta upaya pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil murni.






