Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan proyeksi terbaru mengenai kondisi ekonomi Kamboja dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan analisis tersebut, pertumbuhan ekonomi negara di Asia Tenggara ini diperkirakan akan mengalami penurunan kecepatan atau perlambatan yang cukup signifikan.
Pada tahun 2025, ekonomi Kamboja diproyeksikan masih mampu tumbuh pada angka 5,3 persen. Namun, angka pertumbuhan ini diperkirakan akan terkoreksi turun menjadi hanya 3 persen pada tahun 2026. Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan ekonomi yang harus dihadapi oleh pemerintah Kamboja dalam menjaga stabilitas pertumbuhan domestiknya.
Kondisi perlambatan ini dipicu oleh sejumlah faktor yang mempengaruhi produktivitas dan daya beli di dalam negeri, serta dinamika pasar global yang berdampak pada sektor-sektor utama penggerak ekonomi Kamboja. Penurunan proyeksi pertumbuhan ini menjadi sinyal bagi para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kembali strategi pembangunan ekonomi agar tetap resilien di tengah ketidakpastian global.
Kamboja sendiri merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang selama satu dekade terakhir telah menunjukkan transformasi ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ekonominya sangat bergantung pada sektor manufaktur, terutama industri garmen dan alas kaki, serta sektor pariwisata yang menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara tersebut. Namun, ketergantungan pada pasar ekspor tertentu membuat ekonomi Kamboja rentan terhadap fluktuasi permintaan global dan perubahan kebijakan perdagangan internasional.






