Seorang akademisi asal Indonesia, I Nyoman Apraz Ramatryana, tengah mengembangkan riset teknologi nirkabel yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan lingkungan di dua wilayah berbeda, yakni Uni Emirat Arab (UEA) dan Kalimantan, Indonesia.
Dalam kapasitasnya sebagai dosen Fakultas Teknologi Informasi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta yang kini sedang menempuh studi postdoctoral di Khalifa University, UEA, Ramatryana fokus pada implementasi sistem komunikasi nirkabel. Salah satu fokus utamanya adalah optimasi jaringan air di UEA, guna memastikan distribusi sumber daya air yang lebih efisien dan terpantau di wilayah yang memiliki tantangan iklim ekstrem.
Selain pengembangan di Timur Tengah, perhatian risetnya juga tertuju pada penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Berdasarkan data pada 28 Mei 2023, tercatat terdapat 8.311 titik panas yang menjadi indikasi terjadinya kebakaran hutan di wilayah tersebut. Kondisi ini mendorong urgensi penerapan teknologi patroli berbasis nirkabel guna mempercepat deteksi dini dan koordinasi pemadaman api di lapangan.
Pengembangan sistem monitoring nirkabel ini diharapkan dapat memberikan solusi preventif yang lebih akurat. Dengan integrasi sensor dan jaringan komunikasi yang handal, pemantauan terhadap infrastruktur air maupun titik api dapat dilakukan secara real-time, sehingga risiko kerusakan lingkungan dapat diminimalisir melalui respon cepat dari pihak berwenang.
Penggunaan teknologi nirkabel dalam manajemen sumber daya alam dan mitigasi bencana kini menjadi tren global. Di wilayah tropis seperti Indonesia, sistem peringatan dini berbasis sensor sangat krusial untuk menekan dampak buruk asap kebakaran hutan terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem. Sementara itu, di negara-negara Teluk, efisiensi pengelolaan air menjadi prioritas utama karena keterbatasan sumber air alami di wilayah gurun.






