Pemerintah Iran kembali melayangkan kritik keras terhadap strategi militer Amerika Serikat (AS). Laksamana Muda Habibollah Sayyari, seorang komandan militer senior Iran, secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak bersikap transparan mengenai jumlah personel militer mereka yang tewas dalam berbagai operasi tempur.
Menurut Sayyari, pihak AS sengaja menyembunyikan data korban jiwa guna menjaga citra dan stabilitas internal. Ia menilai bahwa tindakan menutupi angka kematian tersebut merupakan upaya untuk meminimalkan dampak negatif dari kegagalan operasi militer yang dijalankan oleh Washington di berbagai wilayah.
Lebih lanjut, perwira tinggi Iran tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mengalami kegagalan total dalam mencapai tujuan strategis mereka. Sayyari menyebutkan bahwa dalam setiap perang yang dipaksakan oleh AS, target-target utama yang ingin dicapai justru tidak pernah terwujud sepenuhnya.
Kritik ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlanjut antara Teheran dan Washington. Iran menilai bahwa intervensi militer AS di kawasan Timur Tengah justru menciptakan ketidakstabilan baru daripada menyelesaikan konflik yang ada, sehingga klaim keberhasilan operasi militer AS dianggap tidak berdasar oleh pihak Iran.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah berlangsung selama beberapa dekade, dipicu oleh perbedaan ideologi, sengketa program nuklir Iran, serta perebutan pengaruh politik di kawasan Timur Tengah. Hubungan kedua negara ini sering kali diwarnai oleh pengenaan sanksi ekonomi berat dari AS terhadap Iran serta aksi saling ancam di wilayah perairan internasional dan zona konflik regional.






