Kondisi cuaca di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, mengalami penurunan kualitas udara yang signifikan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dampak dari bencana ekologis ini terasa hingga ke sektor transportasi udara, khususnya di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.
Berdasarkan laporan terbaru, jarak pandang atau visibilitas di area bandara mengalami penurunan drastis pada pagi hari. Kabut asap yang pekat menyelimuti kawasan bandara, sehingga jarak pandang hanya tersisa sekitar 500 meter. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi keselamatan penerbangan, mengingat visibilitas yang rendah dapat memengaruhi proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.
Penurunan jarak pandang ini merupakan konsekuensi langsung dari kebakaran lahan yang terjadi di wilayah sekitar Palembang dan sekitarnya. Asap tebal yang terbawa angin masuk ke area bandara, menciptakan lapisan kabut yang menghalangi pandangan pilot dan petugas navigasi udara. Pihak otoritas bandara terus memantau perkembangan situasi guna memastikan seluruh operasional penerbangan tetap berjalan sesuai dengan standar prosedur keselamatan yang berlaku.
Kondisi serupa sering kali terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan saat memasuki musim kemarau. Karhutla menjadi permasalahan tahunan yang tidak hanya mengganggu aktivitas transportasi dan ekonomi, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan masyarakat akibat polusi udara. Upaya pencegahan dan pemadaman dini biasanya ditingkatkan oleh pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminimalisir dampak asap yang meluas ke wilayah perkotaan dan fasilitas publik.






