Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan fakta memprihatinkan terkait kondisi pengungsi pascagempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 94 orang dilaporkan meninggal dunia saat berada di lokasi pengungsian.
Setelah dilakukan proses verifikasi mendalam bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, terungkap bahwa mayoritas korban jiwa berasal dari kelompok lanjut usia (lansia). Kematian massal ini bukan disebabkan oleh dampak langsung dari guncangan gempa, melainkan dipicu oleh komplikasi penyakit kronis yang diderita para korban.
Kondisi lingkungan di tempat pengungsian yang tidak ideal diduga memperburuk kondisi kesehatan para lansia tersebut. Keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan yang memadai serta tekanan psikologis pascabencana menjadi faktor risiko yang meningkatkan kerentanan kelompok usia tua terhadap serangan penyakit kronis yang mereka miliki.
BNPB menekankan pentingnya pengawasan kesehatan yang lebih ketat, terutama bagi kelompok rentan di lokasi pengungsian. Penanganan medis yang cepat dan tepat bagi penderita penyakit kronis menjadi prioritas guna mencegah bertambahnya jumlah korban jiwa dalam situasi darurat bencana alam.
Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang secara geografis berada dalam zona rawan bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami, karena letaknya yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik. Karakteristik wilayah kepulauan di NTT seringkali menjadi tantangan besar dalam proses distribusi bantuan medis dan evakuasi cepat, sehingga manajemen kesehatan di posko pengungsian menjadi krusial untuk menekan angka mortalitas pascabencana.






