Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi terkait kebijakan pemerintah Cina yang memutuskan untuk menghentikan ekspor produk bahan bakar minyak (BBM) serta minyak mentah ke sejumlah negara. Pemerintah Indonesia memastikan bahwa langkah yang diambil oleh Cina tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas pasokan energi di dalam negeri.
Keyakinan ini didasarkan pada data perdagangan energi nasional yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak memiliki ketergantungan impor langsung terhadap produk BBM maupun minyak dari Cina. Oleh karena itu, perubahan kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh pemerintah Cina dalam sektor migas tidak akan mengganggu distribusi bahan bakar di pasar domestik.
Kementerian ESDM menekankan bahwa strategi pemenuhan kebutuhan energi nasional tetap berjalan sesuai rencana dan tidak terganggu oleh dinamika perdagangan di Cina. Pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan ketersediaan stok BBM untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa kendala meskipun terjadi perubahan peta ekspor-impor di kawasan Asia.
Sebagai informasi tambahan, Indonesia memang memiliki ketergantungan impor minyak mentah dan produk BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi migas nasional yang cenderung menurun. Untuk mengatasinya, pemerintah Indonesia menerapkan strategi diversifikasi sumber impor dari berbagai negara produsen minyak global guna meminimalisir risiko gangguan pasokan jika salah satu negara mitra mengalami kendala produksi atau melakukan perubahan kebijakan ekspor.






