Pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat untuk mempererat kerja sama dalam pengembangan sektor pertanian regeneratif. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah pemanfaatan biochar, sebuah material arang organik, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui mekanisme kredit karbon di sektor pertanian.
Pengembangan biochar dipandang sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Dengan mengintegrasikan biochar ke dalam praktik pertanian, kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan karbon dapat ditingkatkan secara signifikan. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi para petani melalui skema insentif karbon yang kini mulai diminati secara internasional.
Kerja sama antara kedua negara ini mencakup berbagai aspek, mulai dari riset teknologi pengolahan biochar yang efisien hingga implementasi skala luas di lahan pertanian Indonesia. Jepang, dengan keunggulan teknologi pertaniannya, diharapkan dapat membantu Indonesia dalam mengoptimalkan proses produksi biochar agar dapat diterapkan secara praktis oleh petani lokal guna meningkatkan produktivitas tanaman.
Selain aspek lingkungan, inisiatif ini juga bertujuan untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Melalui penerapan pertanian regeneratif, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dapat dikurangi, sementara kesehatan tanah jangka panjang dapat terjaga. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya global untuk mencapai target net zero emission melalui inovasi di sektor agrikultur.
Biochar sendiri merupakan produk hasil pirolisis biomassa, yakni proses pemanasan bahan organik tanpa oksigen. Penggunaan biochar secara luas telah dikenal mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan retensi air, serta mengurangi emisi gas rumah kaca seperti metana dan dinitrogen oksida yang sering dihasilkan dari kegiatan pertanian konvensional.






