Hubungan diplomatik antara Iran dan Irak mengalami ketegangan setelah munculnya kritik keras dari pihak Teheran terkait kebijakan transportasi udara. Ali Akbar Velayati, yang menjabat sebagai penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka melayangkan kecaman terhadap langkah yang diambil oleh Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi.
Kekecewaan pihak Iran dipicu oleh keputusan pemerintah Irak untuk menghentikan sementara operasional penerbangan yang menghubungkan kota Najaf dengan wilayah Iran. Langkah penangguhan ini dinilai tidak tepat dan menimbulkan reaksi negatif dari otoritas Teheran.
Dalam pernyataannya, Velayati menegaskan bahwa kebijakan penghentian penerbangan tersebut bukan sekadar masalah teknis transportasi, melainkan memiliki implikasi politik yang lebih luas. Ia menilai tindakan Perdana Menteri Ali al-Zaidi sebagai bagian dari strategi untuk mengikis dan melemahkan apa yang disebut oleh Teheran sebagai persatuan front.
Kritik ini mencerminkan kekhawatiran Iran terhadap stabilitas hubungan bilateral dengan Irak, terutama dalam menjaga konektivitas antarwilayah yang selama ini menjadi jalur penting bagi mobilitas warga maupun kepentingan strategis kedua negara di kawasan Timur Tengah.
Secara historis, hubungan Iran dan Irak sering kali diwarnai oleh dinamika politik yang kompleks, mengingat posisi Irak sebagai negara tetangga yang strategis sekaligus menjadi titik temu berbagai kepentingan kekuatan regional. Kota Najaf sendiri merupakan salah satu pusat spiritual penting yang menarik jutaan peziarah dari Iran setiap tahunnya, sehingga setiap perubahan kebijakan transportasi di wilayah tersebut kerap berdampak signifikan pada hubungan diplomatik dan ekonomi kedua negara.






