Pemerintah Indonesia menyoroti tingginya tingkat ketergantungan ekspor furnitur nasional terhadap pasar Amerika Serikat (AS). Saat ini, AS masih mendominasi sebagai tujuan utama pengiriman produk furnitur asal Indonesia, dengan angka penyerapan mencapai sekitar 60 persen dari total ekspor furnitur nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya strategi diversifikasi pasar guna mengurangi risiko ekonomi yang muncul akibat ketergantungan pada satu negara mitra dagang utama. Menurutnya, kondisi pasar global yang dinamis menuntut Indonesia untuk lebih agresif dalam mencari dan menjajaki peluang pasar baru di berbagai kawasan dunia.
Langkah diversifikasi ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pertumbuhan industri furnitur dalam negeri. Dengan memperluas jangkauan pasar ekspor, industri furnitur Indonesia diharapkan tidak hanya bergantung pada permintaan dari Amerika Serikat, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional lainnya, sehingga ketahanan ekonomi sektor kreatif dan manufaktur kayu dapat lebih terjaga dalam jangka panjang.
Sektor furnitur Indonesia sendiri telah lama dikenal di kancah global karena kualitas bahan baku dan keahlian pengrajinnya. Namun, tantangan berupa fluktuasi permintaan global dan kebijakan perdagangan internasional membuat upaya perluasan pasar menjadi prioritas pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah ekspor non-migas.






