Kepiawaian Memes dalam menguasai seni tarik suara dan seni tari tradisional ternyata tidak didapatkan secara instan. Di balik penampilannya yang memukau di atas panggung, tersimpan memori tentang perjuangan keras dan disiplin tinggi saat ia masih remaja.
Memes mengenang kembali masa-masa ketika ia menjadi murid di Swara Maharddhika, sebuah lembaga pendidikan seni yang menjadi tempatnya mengasah bakat. Pada masa itu, ia harus menghadapi berbagai tantangan fisik dan mental demi bisa menguasai teknik seni yang mumpuni. Salah satu kenangan yang paling membekas adalah kesediaannya untuk menggunakan transportasi umum berupa bus demi bisa menghadiri sesi latihan tari.
Kegigihan tersebut dilakukan Memes karena ia sangat mengagumi sosok almarhum Guruh Soekarnoputra. Di bawah bimbingan sang maestro, Memes tidak hanya belajar tentang olah vokal dan gerakan tari, tetapi juga dididik mengenai etika dan tata cara berpakaian tradisional yang benar. Salah satu pelajaran berharga yang ia terima adalah seni mengenakan kebaya, yang menurutnya memerlukan ketelitian dan pemahaman mendalam agar terlihat anggun dan sesuai pakem.
Didikan keras dari Guruh Soekarnoputra dianggap sebagai fondasi utama yang membentuk karakter seni Memes hingga saat ini. Kedisiplinan yang ditanamkan sejak dini membuatnya mampu menghargai setiap proses dalam berkarya, sehingga ia tidak hanya sekadar tampil, tetapi benar-benar menjiwai setiap peran dan gerakan yang ia bawakan dalam setiap pertunjukan seni tradisional.






