Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Dani Setiawan, menekankan pentingnya penguatan sistem rantai dingin (cold chain) dalam industri perikanan nasional. Menurutnya, ketersediaan fasilitas pendingin yang memadai dapat menjadi solusi efektif dalam menjaga stabilitas harga ikan di tingkat nelayan.
Dani menjelaskan bahwa masalah klasik yang sering dihadapi oleh para nelayan tradisional adalah fluktuasi harga yang tajam. Tanpa dukungan teknologi pengawetan yang mumpuni, nelayan terpaksa menjual hasil tangkapannya dengan harga murah saat terjadi panen raya karena risiko kerusakan ikan yang sangat tinggi jika tidak segera dipasarkan.
Dengan adanya sistem rantai dingin yang terintegrasi, mulai dari tempat pendaratan ikan hingga ke tangan konsumen, kualitas ikan dapat terjaga lebih lama. Hal ini memungkinkan nelayan untuk mengatur waktu penjualan hasil tangkapannya sehingga tidak terjadi penumpukan stok yang menyebabkan jatuhnya harga pasar.
Lebih lanjut, KNTI menilai bahwa investasi pada infrastruktur pendingin, seperti cold storage dan armada pengangkut berpendingin, tidak hanya menguntungkan nelayan dari sisi ekonomi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk perikanan. Dengan kualitas yang tetap segar, daya saing produk perikanan lokal di pasar domestik maupun internasional diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
Sektor perikanan merupakan salah satu pilar ekonomi penting bagi masyarakat pesisir di Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan dukungan infrastruktur pasca-panen menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional serta menjaga ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein ikan yang berkualitas.






