Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda tercatat melemah sebesar 75 poin atau setara dengan 0,42 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya eskalasi konflik yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat. Ketidakpastian situasi global tersebut mendorong para pelaku pasar untuk cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), salah satunya adalah dolar AS.
Kenaikan permintaan terhadap dolar AS secara otomatis memberikan tekanan depresiasi terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dinamika pasar keuangan global saat ini sangat sensitif terhadap isu-isu keamanan internasional, sehingga setiap perkembangan terbaru dari wilayah Timur Tengah berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar di pasar domestik.
Para analis menilai bahwa fluktuasi ini merupakan reaksi wajar pasar terhadap risiko geopolitik yang meningkat. Namun, pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana kedua negara tersebut mengelola konflik mereka serta langkah-langkah intervensi yang mungkin diambil oleh otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.






