Bencana banjir yang melanda wilayah utara Nepal telah meninggalkan dampak psikologis dan sosial yang mendalam bagi para penyintasnya. Saat ini, banyak keluarga terpaksa bertahan hidup di pengungsian sementara dengan kondisi fasilitas yang sangat terbatas.
Kondisi tempat penampungan yang tidak memadai dilaporkan menjadi sumber kecemasan baru, terutama bagi kaum perempuan dan anak perempuan. Kurangnya privasi dan standar keamanan yang rendah di lokasi pengungsian membuat kelompok rentan ini merasa terancam. Para penyintas mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggal sementara mereka saat ini jauh dari kata aman.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah meningkatnya risiko terjadinya pelecehan seksual serta praktik perdagangan manusia. Dalam situasi darurat pascabencana, lemahnya pengawasan dan terbatasnya akses terhadap ruang privat yang aman sering kali menjadi celah bagi pelaku kejahatan untuk mengeksploitasi kelompok yang paling lemah.
Kebutuhan akan perlindungan yang lebih terstruktur kini menjadi mendesak. Para pengungsi berharap adanya intervensi lebih lanjut untuk memastikan bahwa fasilitas penampungan tidak hanya sekadar menyediakan tempat berteduh, tetapi juga menjamin keamanan fisik dan martabat bagi setiap individu, khususnya bagi perempuan dan anak-anak yang berada dalam posisi rentan.






