Aktor kawakan Hollywood, Mark Ruffalo, melontarkan kritik tajam terhadap keputusan hukum di Amerika Serikat yang memberikan lampu hijau bagi proses penggabungan dua raksasa hiburan, Paramount dan Warner Bros. Discovery. Langkah akuisisi yang bernilai fantastis, yakni mencapai US$111 miliar tersebut, dinilai Ruffalo membawa dampak negatif bagi ekosistem industri kreatif.
Menurut Ruffalo, konsolidasi perusahaan media dalam skala sebesar ini berpotensi mematikan kompetisi sehat di industri film dan televisi. Ia mengkhawatirkan bahwa penguasaan pasar oleh segelintir perusahaan besar akan membatasi ruang gerak bagi kreator independen serta mengurangi keberagaman konten yang sampai ke tangan penonton.
Kritik ini muncul sebagai respons atas putusan hakim yang merestui transaksi besar tersebut. Bagi Ruffalo, merger ini bukan sekadar urusan bisnis korporasi, melainkan ancaman terhadap integritas seni dan distribusi karya kreatif di masa depan. Ia menekankan bahwa monopoli dalam industri hiburan dapat menyebabkan kontrol ketat terhadap narasi dan distribusi film secara global.
Keresahan Ruffalo mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pekerja seni mengenai tren konsolidasi media di Amerika Serikat. Banyak pihak menilai bahwa ketika perusahaan-perusahaan besar bergabung, daya tawar para pekerja kreatif cenderung menurun, sementara kekuasaan eksekutif dalam menentukan proyek yang layak diproduksi menjadi semakin terpusat.
Industri hiburan global saat ini memang tengah mengalami pergeseran besar seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat dari televisi konvensional menuju layanan streaming. Tren merger dan akuisisi antarperusahaan media besar sering kali dilakukan sebagai strategi bertahan hidup untuk menghadapi persaingan ketat di pasar digital serta upaya efisiensi biaya operasional dalam produksi konten berskala besar.






