Kondisi lingkungan di kawasan Plaju, Kota Palembang, saat ini tengah menjadi perhatian serius akibat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah warga setempat mengeluhkan kualitas udara yang menurun drastis, yang ditandai dengan munculnya kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah pemukiman mereka.
Kondisi udara yang buruk ini dilaporkan telah memberikan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. Keluhan mengenai gangguan pernapasan menjadi salah satu dampak nyata yang dirasakan warga akibat paparan asap yang terus berembus ke area hunian. Situasi ini diperparah dengan masih ditemukannya sejumlah titik api yang aktif di sekitar wilayah tersebut, sehingga proses pembersihan lahan yang terbakar menjadi tantangan tersendiri.
Keresahan warga muncul lantaran asap yang dihasilkan dari kebakaran lahan tersebut tidak kunjung hilang, bahkan dalam beberapa titik terlihat sangat pekat. Keberadaan titik api yang masih aktif mengindikasikan bahwa proses pemadaman belum sepenuhnya tuntas, sehingga risiko perluasan area terbakar tetap ada jika tidak segera ditangani secara maksimal oleh pihak terkait.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, untuk meminimalisir paparan polusi udara. Warga berharap adanya langkah cepat dan efektif dalam memadamkan sisa-sisa titik api agar kualitas udara di kawasan Plaju dapat kembali normal dan aktivitas harian tidak lagi terganggu oleh kabut asap.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan permasalahan tahunan yang sering melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan, terutama saat memasuki musim kemarau. Fenomena ini umumnya dipicu oleh kombinasi cuaca panas ekstrem dan kondisi lahan gambut yang mudah terbakar, yang kemudian berdampak luas pada penurunan indeks standar pencemaan udara (ISPU) serta mengganggu aktivitas transportasi dan kesehatan masyarakat di skala regional.






