Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia senantiasa menerima berbagai bentuk kenikmatan dari Allah SWT. Namun, menjaga agar nikmat tersebut tetap bertahan dan tidak hilang memerlukan sebuah sikap mental yang tepat, yakni rasa syukur. Hal inilah yang menjadi inti pengajaran Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam.
Menurut Ibnu Athaillah, syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan sebuah mekanisme spiritual untuk mengikat nikmat yang telah diterima. Ketika seseorang mampu bersyukur dengan tulus, ia sejatinya sedang memagari pemberian Tuhan agar tidak terlepas dari genggamannya. Dengan kata lain, rasa syukur berfungsi sebagai pengikat yang membuat keberkahan terus mengalir dan menetap dalam kehidupan seseorang.
Sebaliknya, sikap mengingkari nikmat atau kufur nikmat dianggap sebagai tindakan yang justru mengusir keberkahan tersebut. Saat seseorang merasa tidak puas, mengeluh, atau merasa bahwa pencapaiannya semata-mata karena usahanya sendiri tanpa campur tangan Sang Pencipta, maka ia sedang membuka pintu bagi hilangnya nikmat yang ia miliki. Ketidakmampuan untuk bersyukur membuat seseorang kehilangan perspektif tentang nilai dari apa yang telah ia terima.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk senantiasa melatih diri agar tetap rendah hati dan menyadari bahwa segala fasilitas hidup adalah titipan. Dengan memupuk rasa syukur, seseorang tidak hanya menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga mengundang tambahan nikmat lainnya sebagai bentuk apresiasi dari Allah SWT atas sikap hamba-Nya yang tahu berterima kasih.
Kitab Al-Hikam sendiri merupakan salah satu karya sastra tasawuf paling berpengaruh di dunia Islam. Karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari ini banyak dipelajari di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam karena berisi kumpulan aforisme atau kata-kata bijak yang membimbing seorang hamba dalam membersihkan hati dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Allah SWT agar mencapai ketenangan batin.






