Perjalanan dua judoka putra andalan Indonesia, Muhammad Fathur Rohman dan Muhammad Rizqi Maulana, dalam ajang Asian Games harus berakhir lebih awal. Keduanya gagal melangkah lebih jauh setelah terhenti pada fase babak 16 besar.
Kekalahan ini menjadi catatan tersendiri bagi kedua atlet tersebut, mengingat ini merupakan penampilan perdana atau debut mereka dalam kompetisi multievent terbesar di Asia. Meski telah memberikan perlawanan maksimal di atas matras, Fathur dan Rizqi belum berhasil mengamankan tiket menuju babak perempat final.
Kalahnya dua judoka putra ini menunjukkan ketatnya persaingan di level internasional, terutama saat menghadapi lawan-lawan tangguh dari negara Asia lainnya. Meskipun tidak berhasil membawa pulang medali pada kesempatan kali ini, pengalaman bertanding di level tertinggi diharapkan dapat menjadi modal berharga bagi pengembangan karier mereka ke depan.
Kini, fokus perhatian tertuju pada evaluasi performa atlet judo Indonesia agar dapat lebih bersaing di turnamen mendatang. Dukungan terhadap pembinaan atlet muda menjadi kunci penting agar prestasi judo nasional dapat terus meningkat dan mampu menembus babak final di ajang internasional selanjutnya.
Judo merupakan seni bela diri asal Jepang yang kini telah berkembang menjadi olahraga prestasi global dan menjadi salah satu cabang yang rutin dipertandingkan dalam Olimpiade serta Asian Games. Olahraga ini menekankan pada teknik bantingan dan kuncian, di mana kekuatan fisik harus dipadukan dengan strategi serta ketangkasan untuk dapat menumbangkan lawan.





