Kota Loudi di Provinsi Hunan menjadi pusat perhatian dunia pertanian saat menggelar Konferensi Pertukaran dan Pembelajaran Bersama Budaya Pertanian Global ke-4. Acara yang mengusung tema “Dari Terasering Ziquejie Ke Dunia” ini resmi dibuka pada akhir pekan lalu dengan menghadirkan berbagai perspektif global mengenai pengelolaan lahan pertanian.
Kegiatan berskala internasional ini dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang terdiri dari jajaran pembuat kebijakan, akademisi, peneliti, hingga para pemimpin industri pertanian. Kehadiran mereka bertujuan untuk mendiskusikan strategi pengembangan pertanian berkelanjutan serta berbagi pengalaman dalam melestarikan warisan budaya pertanian yang bernilai tinggi.
Fokus utama dalam konferensi kali ini adalah menonjolkan keunikan Terasering Ziquejie sebagai model pertanian tradisional yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Para peserta mengeksplorasi bagaimana sistem terasering tidak hanya berfungsi sebagai area produksi pangan, tetapi juga memiliki nilai estetika dan ekologis yang dapat dipelajari oleh negara-negara lain dalam menghadapi tantangan krisis pangan dan perubahan iklim.
Melalui forum ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang lebih erat antarnegara dalam hal inovasi teknologi pertanian dan pertukaran pengetahuan. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan riset ilmiah diharapkan dapat mendorong transformasi sektor pertanian tradisional menuju sistem yang lebih modern namun tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Sistem pertanian terasering sendiri merupakan teknik pengelolaan lahan di daerah miring yang telah digunakan selama berabad-abad di berbagai belahan dunia, termasuk Asia. Metode ini bertujuan untuk mencegah erosi tanah dan mengoptimalkan penggunaan air, sehingga lahan perbukitan yang terjal tetap dapat produktif untuk bercocok tanam, terutama untuk komoditas seperti padi.






