Klub raksasa Inggris, Manchester City, dinyatakan bersalah atas mayoritas tuduhan pelanggaran regulasi finansial yang diajukan oleh Premier League. Berdasarkan hasil pemeriksaan terbaru, klub tersebut terbukti melanggar 114 dari total 115 dakwaan yang dijatuhkan kepada mereka.
Kasus ini berkaitan dengan dugaan pelanggaran aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR), atau yang lebih dikenal sebagai Financial Fair Play (FFP). Aturan ini dirancang untuk memastikan klub-klub peserta kompetisi tidak menghabiskan dana melebihi pendapatan yang mereka hasilkan, guna menjaga stabilitas keuangan liga dan mencegah ketimpangan kompetisi yang ekstrem.
Pelanggaran yang terjadi mencakup berbagai aspek pelaporan keuangan selama periode tertentu. Meskipun hanya satu dakwaan yang tidak terbukti, jumlah 114 pelanggaran yang terverifikasi menjadi pukulan telak bagi manajemen klub. Keputusan ini menandai babak baru dalam sengketa panjang antara otoritas liga dan Manchester City yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Kini, fokus tertuju pada sanksi apa yang akan dijatuhkan oleh Premier League kepada klub tersebut. Mengingat skala pelanggaran yang sangat masif, spekulasi mengenai pengurangan poin hingga potensi degradasi dari kasta tertinggi liga Inggris terus bergulir di kalangan pengamat sepak bola dunia.
Financial Fair Play (FFP) merupakan regulasi ketat yang diterapkan di berbagai kompetisi sepak bola papan atas, termasuk Liga Champions UEFA dan Premier League. Aturan ini bertujuan untuk mencegah klub melakukan pengeluaran berlebihan yang tidak berkelanjutan secara finansial, yang sering kali dipicu oleh suntikan dana besar dari pemilik klub. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak klub besar Eropa yang menghadapi penyelidikan serupa guna memastikan sportivitas dan keberlangsungan ekonomi jangka panjang dalam ekosistem sepak bola profesional.





