Sebanyak 700 lebih tokoh penting dari berbagai sektor industri, termasuk pemilik usaha, pemimpin perusahaan, hingga praktisi teknologi, menghadiri gelaran Mekari Conference 2026. Acara yang mengusung tema "AI at Work" ini menjadi wadah diskusi strategis bagi para pengambil kebijakan dan pelaku transformasi digital dalam membedah peran kecerdasan buatan (AI) terhadap ekosistem bisnis di Indonesia.
Fokus utama dari forum ini adalah mengeksplorasi bagaimana integrasi AI dapat mengakselerasi efisiensi operasional perusahaan. Para peserta membahas berbagai strategi implementasi teknologi cerdas yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata pada pertumbuhan bisnis di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Selain membahas peluang, konferensi ini juga menyoroti tantangan serius terkait penggunaan AI yang tidak terawasi atau yang dikenal dengan istilah "Shadow AI". Fenomena ini terjadi ketika karyawan menggunakan alat AI pihak ketiga tanpa izin atau pengawasan dari departemen IT perusahaan, yang berpotensi menimbulkan risiko keamanan data dan kebocoran informasi sensitif.
Melalui diskusi lintas industri ini, Mekari menekankan pentingnya membangun tata kelola AI yang terstruktur. Tujuannya adalah agar perusahaan dapat memanfaatkan potensi maksimal dari kecerdasan buatan secara aman dan terintegrasi, sehingga transformasi digital yang dilakukan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah jangka panjang bagi organisasi.
Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi tren global yang mengubah paradigma kerja di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, adopsi AI mulai merambah berbagai sektor, mulai dari layanan keuangan, ritel, hingga manufaktur, guna mengotomatisasi tugas rutin dan meningkatkan akurasi analisis data. Namun, tantangan utama yang sering dihadapi oleh perusahaan adalah kesiapan sumber daya manusia serta regulasi internal dalam mengelola teknologi baru agar tetap selaras dengan standar keamanan siber.






