Setiap tanggal 27 September, masyarakat Indonesia memperingati Hari Bakti Pos dan Telekomunikasi atau yang lebih dikenal dengan Hari Bhakti Postel. Peringatan tahun ini kembali digelar pada Minggu (27/9) sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang perjuangan bangsa dalam menguasai sarana komunikasi nasional.
Fokus utama dari peringatan ini adalah untuk mengenang peristiwa bersejarah pengambilalihan Kantor PTT (Pos, Telegraf, dan Telepon) di Kota Bandung dari tangan pemerintah pendudukan Jepang. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting bagi kedaulatan informasi di Indonesia, di mana para pejuang dan pegawai komunikasi saat itu berupaya merebut kembali kendali atas infrastruktur komunikasi yang sangat vital bagi koordinasi perjuangan kemerdekaan.
Pengambilalihan aset komunikasi ini bukan sekadar perpindahan kekuasaan administratif, melainkan strategi krusial untuk memastikan bahwa informasi mengenai proklamasi kemerdekaan dan instruksi perjuangan dapat tersebar luas tanpa hambatan dari pihak asing. Semangat pengorbanan dan keberanian para pendahulu di sektor pos dan telekomunikasi inilah yang kemudian diabadikan melalui peringatan tahunan Hari Bhakti Postel.
Melalui peringatan ini, diharapkan generasi penerus di bidang komunikasi dan informatika dapat mengambil teladan dari kegigihan para pendahulu. Momentum ini juga menjadi refleksi bagi para praktisi telekomunikasi modern untuk terus meningkatkan pelayanan publik di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, agar manfaat komunikasi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Sektor pos dan telekomunikasi memiliki peran fundamental dalam menghubungkan wilayah kepulauan Indonesia yang luas. Sejak masa kolonial hingga era digital saat ini, infrastruktur komunikasi telah bertransformasi dari sistem surat menyurat manual dan telegraf menjadi jaringan serat optik dan satelit yang mendukung ekonomi digital nasional.






