Film 'What Happened to Monday' menyuguhkan sebuah premis fiksi ilmiah yang mencekam mengenai masa depan dunia yang terancam oleh krisis populasi. Dalam dunia tersebut, pemerintah telah menerapkan kebijakan ekstrem berupa pembatasan ketat terhadap jumlah anak yang boleh dimiliki oleh setiap keluarga. Aturan ini dibuat dengan tujuan menjaga stabilitas sumber daya alam dan keberlangsungan hidup umat manusia.
Cerita berfokus pada tujuh saudara perempuan kembar identik yang lahir di tengah tekanan hukum tersebut. Untuk menghindari deteksi otoritas dan menyelamatkan saudara-saudaranya, mereka terpaksa menjalani kehidupan yang sangat terorganisir. Ketujuh gadis ini berbagi satu identitas tunggal, di mana mereka hanya diperbolehkan keluar rumah pada hari yang sesuai dengan nama mereka masing-masing dalam satu minggu.
Konflik memuncak ketika salah satu dari mereka tidak kembali ke rumah tepat pada waktunya. Kejadian ini memicu kepanikan dan ketegangan di antara saudara kembar lainnya, karena rahasia besar yang mereka simpan selama bertahun-tahun kini terancam terbongkar. Mereka harus berpacu dengan waktu untuk menemukan saudara yang hilang tersebut sebelum pemerintah mengetahui keberadaan mereka.
Film ini tidak hanya menawarkan ketegangan melalui plot misterinya, tetapi juga memberikan kritik sosial mengenai kontrol pemerintah yang berlebihan terhadap hak asasi manusia. Penonton diajak untuk melihat bagaimana rasa kasih sayang antar saudara menjadi kekuatan utama dalam menghadapi sistem yang represif dan tidak manusiawi.
Genre distopia sering kali digunakan dalam karya sinema untuk menggambarkan skenario terburuk dari masa depan manusia, di mana kontrol sosial yang ketat menjadi tema sentral. Film-film jenis ini biasanya mengeksplorasi isu-isu etika, moralitas, dan perjuangan individu melawan sistem otoriter guna memberikan peringatan tentang pentingnya kebebasan sipil dan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat.






