Banyak orang kerap merasa kecewa, putus asa, bahkan mulai berprasangka buruk kepada Sang Pencipta ketika doa-doa yang dipanjatkan belum kunjung mendapatkan jawaban. Perasaan tidak berdaya ini sering kali muncul akibat ekspektasi manusia yang menginginkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan waktu dan keinginan pribadinya.
Menanggapi fenomena psikologis dan spiritual tersebut, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari memberikan nasihat mendalam melalui karyanya yang fenomenal, kitab Al-Hikam. Beliau menekankan agar seorang hamba tidak terburu-buru merasa gagal atau berputus asa hanya karena permintaan yang diajukan belum terwujud dalam bentuk yang diharapkan.
Menurut Ibnu Athaillah, keterlambatan pengabulan doa bukanlah tanda bahwa Allah SWT mengabaikan hamba-Nya. Sebaliknya, hal tersebut bisa menjadi bagian dari skenario besar yang lebih baik bagi sang hamba. Sikap yang seharusnya dikembangkan adalah kesabaran dan prasangka baik (husnuzan), karena sering kali apa yang kita anggap sebagai penundaan sebenarnya adalah bentuk perlindungan atau persiapan bagi kita untuk menerima sesuatu yang lebih tepat pada waktu yang paling tepat.
Dengan memahami konsep ini, seorang Muslim diajak untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir dari sebuah doa, tetapi juga menikmati proses penghambaan itu sendiri. Keyakinan bahwa Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental dan ketenangan jiwa di tengah ujian kehidupan.
Kitab Al-Hikam sendiri merupakan salah satu rujukan utama dalam dunia tasawuf atau spiritualitas Islam. Karya ini dikenal luas karena berisi kumpulan aforisme atau kata-kata hikmah yang membimbing pembacanya untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, serta mencapai ketenangan batin melalui pemahaman tauhid yang mendalam.






