Kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai lini kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan dan pola tumbuh kembang anak. Menanggapi fenomena ini, Psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas Mangestuti, menekankan pentingnya membekali anak-anak dan remaja dengan keterampilan khusus agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurut Pritta, terdapat tiga kompetensi utama yang harus dipupuk sejak dini agar anak mampu bersaing dan tetap relevan di tengah gempuran AI. Pertama adalah kemampuan berpikir kritis. Di era di mana informasi dapat dihasilkan secara instan oleh mesin, anak dituntut untuk mampu menyaring, menganalisis, dan memvalidasi data agar tidak mudah terjebak oleh informasi yang keliru atau bias.
Keterampilan kedua yang tidak kalah penting adalah kreativitas. Meskipun AI mampu mengolah data dalam jumlah besar, imajinasi dan orisinalitas ide tetap menjadi domain unik manusia. Dengan mengasah sisi kreatif, anak-anak dapat menemukan solusi inovatif yang tidak bisa dihasilkan oleh algoritma kaku, sehingga mereka memiliki nilai tambah yang membedakan mereka dari mesin.
Terakhir, Pritta menyoroti pentingnya kecerdasan emosional atau empati. Interaksi antarmanusia, kemampuan memahami perasaan orang lain, serta manajemen emosi adalah aspek yang tidak dapat digantikan oleh AI. Keterampilan sosial ini menjadi kunci utama dalam membangun kolaborasi dan kepemimpinan di masa depan.
Dengan mengintegrasikan ketiga aspek tersebut—berpikir kritis, kreativitas, dan kecerdasan emosional—anak-anak diharapkan memiliki ketahanan mental dan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika dunia kerja dan kehidupan sosial yang semakin terdigitalisasi.






