Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan tegas terkait posisi Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, Amerika Serikat diprediksi akan terpaksa menarik seluruh kekuatannya dan meninggalkan wilayah tersebut setelah mengalami berbagai tekanan serta pukulan telak yang menyakitkan.
Khamenei menilai bahwa strategi dan kehadiran militer AS di Timur Tengah tidak lagi efektif dan justru memberikan beban besar bagi negara tersebut. Dalam pandangannya, situasi geopolitik saat ini telah bergeser, sehingga AS tidak akan mampu lagi mempertahankan pengaruh atau dominasinya di kawasan yang penuh gejolak tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta berbagai konflik yang melibatkan sekutu AS di wilayah tersebut. Khamenei menegaskan bahwa tekanan yang terjadi bukan sekadar gangguan kecil, melainkan dampak signifikan yang akan memaksa Washington untuk mengevaluasi kembali kehadiran mereka di Timur Tengah.
Lebih lanjut, pemimpin Iran tersebut mengisyaratkan bahwa kepergian AS akan menjadi sebuah keniscayaan sejarah. Ia meyakini bahwa kekuatan lokal di kawasan tersebut kini memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menentukan arah politik dan keamanan mereka sendiri tanpa campur tangan dari kekuatan eksternal, terutama dari Washington.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah berlangsung selama puluhan tahun, yang dipicu oleh perbedaan ideologi, perebutan pengaruh regional, serta isu program nuklir Iran. Hubungan kedua negara ini sering kali memuncak dalam bentuk sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan AS kepada Teheran, serta aksi saling ancam di wilayah perairan strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi global.






