Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, memberikan pernyataan tegas terkait bencana banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Menurutnya, tragedi alam yang menghancurkan tersebut bukan sekadar bencana lokal, melainkan sebuah peringatan keras bagi seluruh penduduk bumi mengenai dampak nyata dari perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan.
Dalam pernyataannya, PM Shah menekankan bahwa kerusakan masif yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari kondisi lingkungan global yang tidak stabil. Ia menyoroti bagaimana fenomena alam ekstrem kini terjadi dengan frekuensi yang lebih sering dan intensitas yang lebih merusak, yang secara langsung mengancam keselamatan jiwa serta infrastruktur di kawasan pegunungan Himalaya.
Lebih lanjut, pemimpin Nepal tersebut melontarkan kritik tajam terhadap respon dunia internasional. Ia mempertanyakan apakah peringatan alam yang terjadi di negaranya telah didengar dan dipedulikan oleh negara-negara lain, terutama negara maju yang memiliki kontribusi besar terhadap emisi karbon global. Bagi Shah, bencana ini adalah bukti nyata bahwa negara-negara berkembang sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis iklim, meskipun mereka bukan penyumbang utama kerusakan lingkungan.
Banjir bandang di wilayah Nepal-Tibet ini telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan dan mengganggu kehidupan ribuan warga. Pemerintah Nepal kini terus berupaya melakukan mitigasi bencana dan pemulihan wilayah terdampak, sembari terus mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret dalam menekan laju pemanasan global demi mencegah tragedi serupa terulang kembali di masa depan.
Kawasan Himalaya, tempat Nepal berada, dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim global. Mencairnya gletser akibat peningkatan suhu bumi sering kali memicu terjadinya banjir bandang glasial (Glacial Lake Outburst Floods/GLOF) yang dapat menyapu seluruh desa di lembah pegunungan. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para ilmuwan lingkungan karena mengancam ketahanan pangan dan sumber air bagi jutaan orang di Asia Selatan.






