Kini, platform media sosial seperti TikTok telah mengubah lanskap komunikasi publik secara drastis. Muncul sebuah fenomena menarik di mana terdapat dua pendekatan berbeda dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Di satu sisi, masih ada praktisi hubungan masyarakat (humas) yang tampil dengan gaya konvensional, mengenakan jas rapi dan membacakan naskah siaran pers secara formal.
Namun, di sisi lain, muncul tren baru di mana penyampaian informasi dilakukan dengan gaya yang jauh lebih santai dan kasual. Menariknya, pendekatan yang tidak kaku ini—bahkan yang terlihat sangat sederhana seperti menggunakan pakaian rumah atau daster—justru seringkali dianggap lebih meyakinkan dan lebih mudah diterima oleh netizen dibandingkan dengan gaya formal yang terkesan kaku.
Perbedaan reaksi audiens ini menunjukkan adanya perubahan preferensi masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Gaya komunikasi yang terlalu formal sering kali dipersepsikan sebagai jarak antara lembaga dengan rakyat, atau bahkan dianggap sebagai pesan yang sudah 'disaring' sedemikian rupa sehingga kehilangan sisi kemanusiaannya. Sebaliknya, penampilan yang lebih membumi menciptakan kesan transparansi, kejujuran, dan kedekatan emosional.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi para praktisi komunikasi publik untuk mengevaluasi kembali strategi mereka. Formalitas yang selama ini menjadi standar profesionalisme dalam dunia humas kini mulai tergeser oleh kebutuhan akan autentisitas. Kemampuan untuk beradaptasi dengan bahasa dan gaya hidup audiens target menjadi kunci utama agar pesan yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga dipercaya oleh masyarakat luas.






