Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung khidmat, tokoh ulama terkemuka Gus Baha menyampaikan pesan mendalam mengenai hakikat ketakwaan dan kesadaran spiritual di hadapan Kapolri. Fokus utama dari penyampaian Gus Baha adalah mengenai bagaimana keyakinan kepada Tuhan seharusnya menjadi penggerak utama bagi setiap individu dalam berperilaku di tengah masyarakat.
Gus Baha menekankan bahwa kesadaran bertauhid, atau keyakinan penuh akan keesaan Tuhan, akan membentuk karakter seseorang untuk senantiasa melakukan kebajikan. Menurutnya, integritas seseorang tidak boleh hanya bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan dari manusia atau otoritas tertentu, melainkan didasari oleh rasa takut dan hormat kepada Sang Pencipta.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang benar-benar menyadari kehadiran Tuhan dalam setiap langkah hidupnya, maka dorongan untuk berbuat baik akan muncul secara alami. Hal ini berlaku dalam segala situasi, baik saat berada di bawah pengawasan ketat aparat penegak hukum maupun saat sedang sendirian tanpa ada yang melihat.
Dengan demikian, rasa takut kepada Tuhan dipandang sebagai benteng moral terkuat yang dapat mencegah seseorang dari melakukan tindakan menyimpang. Pesan ini memberikan perspektif bahwa penegakan hukum dan ketertiban masyarakat akan menjadi lebih efektif apabila didukung oleh kekuatan iman dan kesadaran spiritual individu masing-masing.
Dalam konteks sosial di Indonesia, peran ulama seperti Gus Baha sering kali menjadi jembatan antara nilai-nilai religius dan implementasi kehidupan bernegara. Pendekatan persuasif melalui ceramah agama dianggap efektif dalam membentuk moralitas publik, mengingat masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat religiusitas tinggi. Sinergi antara kepatuhan terhadap hukum negara dan ketaatan terhadap ajaran agama diharapkan mampu menciptakan stabilitas keamanan serta ketertiban sosial yang berkelanjutan.






