Indonesia dinilai memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi para investor global, khususnya dalam pengembangan infrastruktur pusat data atau data center. Hal ini disampaikan oleh Managing Director Energy Shift Institute (ESI), Putra Adhiguna, yang melihat adanya peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi hub digital di kawasan regional.
Menurut Putra, posisi strategis Indonesia serta pertumbuhan ekonomi digital yang pesat menjadi faktor utama mengapa negara ini dianggap menjanjikan. Peningkatan konsumsi data oleh masyarakat serta transformasi digital yang dilakukan oleh berbagai sektor industri menciptakan permintaan yang tinggi terhadap kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data yang efisien dan aman.
Investasi di sektor pusat data tidak hanya membawa masuk modal asing, tetapi juga diharapkan dapat mendorong transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang teknologi informasi. Putra menekankan bahwa ketersediaan lahan, stabilitas regulasi, serta dukungan pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang inklusif akan semakin memperkuat posisi Indonesia di mata investor internasional.
Lebih lanjut, pengembangan pusat data yang berkelanjutan juga menjadi poin krusial. Dengan fokus pada efisiensi energi dan penggunaan sumber energi terbarukan, Indonesia dapat menawarkan nilai tambah bagi perusahaan teknologi global yang kini tengah gencar menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam operasional bisnis mereka.
Sebagai informasi tambahan, tren pembangunan pusat data di Asia Tenggara saat ini memang sedang mengalami peningkatan signifikan. Hal ini dipicu oleh migrasi layanan ke sistem cloud (komputasi awan) dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan infrastruktur fisik berupa server berskala besar. Negara-negara seperti Singapura dan Malaysia telah lebih dulu membangun ekosistem ini, namun Indonesia memiliki keunggulan dari sisi jumlah pengguna internet terbesar di kawasan, yang menjadikannya pasar potensial bagi penyedia layanan data center dunia.






