Ketegangan pecah antara sejumlah warga dengan aparat kepolisian menyusul adanya tindakan pembongkaran sebuah masjid. Insiden bentrokan ini terjadi dipicu oleh ketidaksetujuan masyarakat terhadap proses eksekusi bangunan yang dianggap sebagai tempat ibadah penting bagi warga setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tindakan pembongkaran tersebut dilakukan oleh pemerintah kota sebagai bagian dari langkah strategis untuk mendukung proyek pembangunan infrastruktur. Fokus utama dari kegiatan ini adalah pelebaran ruas jalan yang dinilai krusial guna mengantisipasi lonjakan volume kendaraan dan mobilitas massa di masa mendatang.
Langkah pemerintah kota ini diambil dalam rangka mempersiapkan wilayah tersebut menyambut pelaksanaan Simhastha 2028. Proyek pelebaran jalan diharapkan dapat memperlancar arus lalu lintas serta meningkatkan aksesibilitas bagi para pengunjung dan peserta acara besar yang akan berlangsung pada tahun 2028 mendatang.
Namun, proses pengosongan lahan dan pembongkaran bangunan masjid tersebut tidak berjalan mulus. Penolakan keras dari warga yang merasa keberatan dengan penghilangan tempat ibadah mereka memicu gesekan fisik dengan petugas kepolisian yang dikerahkan untuk mengamankan jalannya pembongkaran. Situasi sempat memanas saat warga mencoba menghalau alat berat yang akan meruntuhkan struktur bangunan.
Simhastha merupakan salah satu festival keagamaan terbesar di dunia yang menarik jutaan peziarah dari berbagai penjuru. Karena skala acaranya yang sangat masif, pemerintah daerah biasanya melakukan renovasi besar-besaran terhadap infrastruktur kota, termasuk jalan raya dan fasilitas umum, guna menjamin keselamatan serta kenyamanan para pengunjung selama acara berlangsung.






