Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan seluruh metode identifikasi primer sebelum memutuskan menggunakan tes DNA dalam proses pengenalan jenazah korban tragedi Virgo. Langkah ini diambil guna mempercepat proses pengembalian jenazah kepada keluarga dengan tetap menjaga akurasi data.
Dalam pelaksanaannya, tim medis dan forensik akan lebih dahulu memaksimalkan pemeriksaan melalui catatan medis, pemeriksaan gigi (odontologi), serta pengenalan fisik oleh keluarga. Penggunaan metode-metode ini dinilai lebih efisien secara waktu dan biaya dibandingkan dengan pemeriksaan DNA yang memerlukan proses laboratorium lebih panjang dan kompleks.
Meski demikian, Pusdokkes Polri memastikan bahwa tes DNA tetap tersedia sebagai opsi final. Metode ini akan diterapkan apabila metode identifikasi primer lainnya tidak memberikan hasil yang konklusif atau ketika kondisi fisik jenazah sudah tidak memungkinkan lagi untuk dikenali melalui ciri-ciri fisik maupun catatan medis.
Koordinasi antara tim DVI (Disaster Victim Identification) dan pihak keluarga terus diperkuat untuk mengumpulkan sampel DNA pembanding jika memang diperlukan. Hal ini dilakukan agar proses pencocokan data dapat berjalan akurat dan tidak terjadi kekeliruan dalam penetapan identitas korban.
Secara umum, proses identifikasi korban bencana massal atau kecelakaan besar di Indonesia mengikuti standar internasional DVI yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Prosedur ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap jenazah dapat diidentifikasi secara ilmiah dan legal, sehingga memberikan kepastian hukum serta membantu keluarga korban dalam proses pemakaman yang layak.






