Sektor pendidikan di Iran kini mulai kembali berdenyut seiring dengan dibukanya kembali sekolah-sekolah secara tatap muka. Langkah ini diambil setelah sebelumnya proses belajar mengajar terpaksa dialihkan sepenuhnya ke sistem daring selama beberapa bulan terakhir.
Kembalinya para siswa ke ruang kelas menandai upaya pemerintah setempat untuk memulihkan stabilitas pendidikan yang sempat terganggu. Meskipun gedung sekolah telah dibuka kembali, transisi dari pembelajaran jarak jauh ke tatap muka ini tidak berjalan tanpa hambatan. Kondisi psikologis para siswa dan tenaga pengajar menjadi sorotan utama dalam proses kembalinya aktivitas akademik ini.
Keresahan masih menyelimuti lingkungan sekolah, di mana trauma akibat konflik dan situasi perang yang terjadi di wilayah tersebut masih membekas kuat. Banyak siswa yang dilaporkan mengalami kecemasan saat harus kembali berinteraksi secara fisik di lingkungan sekolah, mengingat situasi keamanan yang tidak menentu dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan di wilayah konflik tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur fisik atau pembukaan gedung sekolah, tetapi juga memerlukan penanganan trauma yang mendalam. Dukungan psikososial bagi anak-anak menjadi krusial agar mereka dapat kembali fokus belajar di tengah situasi geopolitik yang masih tegang.
Secara umum, Iran seringkali menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas sistem pendidikannya akibat tekanan politik dan konflik regional yang berkepanjangan. Dampak psikologis dari peperangan terhadap anak-anak di wilayah konflik biasanya bersifat jangka panjang, yang sering kali memicu penurunan kualitas pembelajaran serta peningkatan angka putus sekolah jika tidak ditangani dengan rehabilitasi mental yang tepat.






